Anak atau bayi yang sedang sakit tidak boleh diberi imunisasi. Pernyataan itu sering kali disalah artikan oleh banyak masyarakat, sehingga mereka mengambil keputusan sendiri untuk tidak memberikan imunisasi pada anaknya yang sedang sakit. Akan lebih baiknya sebagai orang tua sebaiknya menanyakan pada ahlinya dengan tetap membawa anak ke dokter sesuai jadwal imunisasi sehingga dokter bisa memeriksa apakah si anak boleh atau tidak diimunisasi saat itu.
     Berikut beberapa keadaan bayi / anak yang membuat para orang tua ragu untuk memberikan imunisasi pada anak / bayinya.
  
1. Bayi / Anak sedang pilek batuk bolehkah di imunisasi ?
 Boleh. Batuk pilek ringan tanpa demam boleh diimunisasi, kecuali bila bayi sangat rewel, imunisasi dapat ditunda 1 – 2 minggu kemudian.

2. Jika sedang minum obat lain apakah boleh diimunisasi ?
Apabila anak sedang minum obat prednison 2 mg/kgbb/hari, dianjurkan menunda imunisasi 1 bulan setelah selesai pengobatan.

3. Jika pada imunisasi terdahulu timbul kejadian ikutan pasca imunisasi, bagaimana jadwal vaksinasi selanjutnya ?
Jika kejadian ikutan pasca imunisasi hanya ringan, vaksinasi berikutnya sesuai jadwal, tetapi jika berat sebaiknya dosis berikutnya tidak dilanjutkan. Jika kejadian ikutan pasca imunisasi DPT cukup berat, dosis berikutnya menggunakan vaksin DT.

4. Apabila bayi / anak sudah pernah sakit campak, rubela atau batuk rejan bolehkah di imunisasi untuk penyakit-penyakit tersebut? Apakah justru indikasi kontra ?
Boleh, walaupun ada riwayat pernah menderita penyakit tersebut vaksinasi tidaklah berbahaya. Vaksinasi bayi / anak dengan riwayat pernah sakit campak akan meningkatkan kekebalan dan tidak menimbulkan risiko. Diagnosis campak dan rubella tanpa konfirmasi laboratorium sangat tidak dapat dipercaya. Anak dengan riwayat pernah sakit tersebut sebaiknya tetap diberikan MMR.

5. Apakah anak yang menderita epilepsi bolehkah diimunisasi ?
Kelainan neurologik yang stabil dan riwayat kejang atau epilepsi di dalam keluarga bukanlah indikasi kontra untuk memberikan vaksinasi DPT. Orangtua atau pengasuh harus diingatkan bahwa sesudah vaksinasi dapat timbul demam, oleh karena itu dianjurkan untuk segera memberikan obat penurun panas. Harus diingatkan pula bahwa demam pasca vaksinasi campak timbul 5 – 10 hari setelah imunisasi.

6. Apakah anak yang menderita alergi boleh diimunisasi ?
Pasien asma, eksim dan pilek boleh diimunisasi tetapi kita harus sangat berhati-hati jika anak alergi berat terhadap telur. Jika riwayat reaksi anafilaktik terhadap telur (urtikaria luas, pembengkakan mulut atau tenggorok, kesulitan bernafas, mengi, penurunan tekanan darah atau syok) merupakan indikasi kontra untuk vaksin influenza, demam kuning dan demam Q. Sedangkan untuk vaksin MMR karena kejadian reaksi anafilaktik sangat jarang, masih boleh diberikan dengan pengawasan.

Artikel ini diambil dari website Ikatan Dokter Anak Indonesia, semoga bermanfaat. Terima kasih.


         Banyak sekali pro kontra dari masyarakat tentang imunisasi bagi bayi, sampai ada yang menganggap bahwa imunisasi itu tidak penring bagi bayi sehingga mereka memutuskan tidak memberikan imunisasi pada bayi mereka. hal ini bisa disebabkan karena kurangnya informasi bagi para orang tua, pemahaman yang kurang tentang imunisasi itu sendiri dan tentunya bisa disebabkan karena sikap orang tua yang meyakini imunisasi itu tidak penting. Selain itu juga banyak para orang tua kadang ada yang salah menerima informasi tentang imunisasi, sehingga mereka merasa ragu untuk memberikan imunisasi pada anak mereka. Berikut beberapa pertanyaan yang sering dipertanyakan oleh para orang tua tentang imunisasi. 

1. Sesudah diimunisasi apakah pasti tidak akan tertular penyakit tersebut ?
Bayi / Anak yang telah diimunisasi walaupun kemungkinannya kecil masih dapat tertular penyakit tersebut, namun jauh lebih ringan dibanding terkena penyakit secara alami.

2. Apabila anak diberi beberapa jenis vaksin sekaligus apakah tidak berbahaya ?
Tidak berbahaya, asalkan imunisasi dilakukan di bagian tubuh yang berbeda (misalnya paha / lengan kiri dan kanan), menggunakan alat suntik yang berlainan dan memperhatikan ketentuan umum tentang pemberian vaksin.

3. Beberapa dokter menyuntikkan vaksin di tempat yang berbeda walaupun vaksinnya sama. Apakah ada perbedaan kekebalan ?
(Misalnya penyuntikan vaksin BCG ada yang di lengan atau pinggul, campak, hepatitis B, Hib, DPT di lengan atau paha).
Pemilihan tempat penyuntikan vaksin berdasarkan beberapa pertimbangan antara lain tebal otot atau lemak, untuk mendapatkan kekebalan optimal, cedera yang minimal pada jaringan, pembuluh darah, saraf di sekitarnya, memperkecil kemungkinan rasa tidak nyaman pada bayi dan anak akibat gerakan, sentuhan, terutama apabila bayi sudah dapat berjalan, dan bayi dan anak akibat gerakan, sentuhan, terutama apabila bayi sudah dapat berjalan, dan pertimbangan estetis. Perbedaan tempat penyuntikan tidak menimbulkan perbedaan kekebalan, asalkan kedalaman penusukan jarum atau jaringan yang disuntik vaksin (infrakutan, subkutan, intramuskular) sesuai dengan ketentuan untuk setiap jenis vaksin. Khusus untuk BCG sudah ada kesepakatan diberikan pada lengan kanan atas (deltoid)

4. Apakah imunisasi menyebabkan anak menderita autisme ?
Sampai saat ini belum ada bukti yang menyokong bahwa imunisasi (jenis imunisasi apapun) dapat menyebabkan autisme. Baik Badan Kesehatan Dunia (WHO) maupun Departemen Kesehatan & Kesos RI tetap merekomendasikan pemberian semua imunisasi sesuai jadwal yang telah ditentukan.

Artikel ini diambil dari website Ikatan Dokter Anak Indonesia (idai.or.id), semoga bermanfaat. Terima kasih.
      Today , young people in Indonesia have various problems are quite complicated , ranging from early marriage to drug abuse . The younger the age at first marriage of the greater risks faced by mother and child . One indicator of the people's welfare is maternal mortality . Indonesia's maternal mortality rate is still high . UNICEF report of 2001 mentions the maternal mortality rate on average from 1980-1999 was 450 per 100,000 live births . While the results of 1995 Household Health Survey showed a decrease in the maternal mortality rate to 373 per 100,000 live births . Some of the main causes of death are not available with good maternal care , birth spacing is too close together , and early marriage .

       
A 1995 survey 21.5 % of Indonesian women get that done first marriage at the age of 17 years . In rural and urban women perform underage marriages recorded respectively 24.4 % and 16.1 % . Contained the largest percentage of early marriage in the province of East Java, 40.3 % , 39.6 % in West Java and South Kalimantan 37.5 % .

       
For the case of Human Immunodeficiency Virus / Acquired Immune Deficiency Syndrome ( HIV / AIDS ) shows , almost half, ie 45.9 percent of the cases were from the age of 20-29 years . The data show that adolescence is also vulnerable to HIV / AIDS . Which is still a problem today is that the age of first marriage for women in Indonesia has reached 19 years . In fact , women are expected age of first marriage of 21 years. Therefore , prosperous family planning should start as a teenager .

       
Central Bureau of Statistics in 2010 , there were 35 of 1,000 adolescents who had never given birth . In fact , the average marriage age of women was 19 years . To address the problem of teenagers today , the National Population and Family Planning programs continue promoting " Planned Generation Goes to School " .
" The program is expected to print genre figure among adolescents motivator to campaign to every school , " said Deputy Family Welfare and Family Empowerment National Population and Family Planning National Dr Sudibyo Alimoeso in Jakarta .

         
About 64 million people are vulnerable to cases of Indonesian teenagers marry young , or about 27.6 percent of the total population. It stated the Head of the National Population and Family Planning , Dr. Sugiri Syarief .
        One form of high- risk behavior occurs and problem behaviors during adolescence is associated with premarital sex . Statistics on the number deviation ( deviation ) premarital sexual behavior of teenagers getting bigger every year . The 1970s , research on premarital sexual behavior showed 7-9 % rate . Decade in 1980, that number increased to 12-15 % . Next in 1990 increased to 20 % .

        
In this era , Center for the Study of Criminology Indonesian Islamic University in Yogyakarta find 26.35 % of 846 wedding events have had sexual intercourse before marriage in which 50 % of them lead to pregnancy . In Kulon Progo Regency is based on the observation of the Department of Health in 2006 , approximately 44 % of new brides have been known to take a pregnancy test pregnant.

        
National household survey data in 1982 as much as 65 % of young women using contraceptives ineffective or without contraception during their first sexual intercourse , the incidence decreased to 41 % in 1988.6 The study by the Centre for Ecology & Health , Health Development Agency , 1990 MOH to students - student high school in Jakarta and Yogyakarta mention that the main factor influencing teenagers to have premarital sex is reading porn books and watching blue films ( 54.3 % and 49.2 % in Jakarta, Yogyakarta ) . The main motivation is the intercourse was consensual ( 76 % in Jakarta and Yogyakarta 75.6 % ) , the influence of friends , biological needs and feel 14-18 % less obedient to religious values ​​as much as 20-26 % .

       
Unfortunately for various reasons the teens to have sex before marriage that would be a very bad impact to the lives of teenagers . Hopefully the problems that occur annually on adolescent may continue to decrease , especially in terms of relationships that could impair their own adolescent self .
This article is taken from Anaka Indonesian Doctors Association ( idai.or.id )
Thank you .

Phases of change in adolescents

          As a teenager we always see a lot of changes in ourselves, be it physical, mental emotional to us. Sometimes a lot of teenagers who are not ready to accept a change in him from the earlier to the children who still can play and not have to think about yourself whether it looks up a relationship with the opposite sex. as well as for the following levels of juvenile characteristics in each phase of adolescence.

TypeAge (years)CharacteristicsImpact
Early adolescents 10-13Puberty, relationships with friends, cognition concrete Attention to physical and sexual phase of, sense of responsibility, interaction with verbal and visual tools
Mid adolescents14-16Appears sexual urges, behavior change, freedom, abstract cognition Attract the opposite sex of freedom increases, the ambivalent attitude, the ego is not stable
Late adolescents17-21Physical maturity, a sense of sharing, idealist, emancipation steadyIndividual relationships, more open, understanding responsibilities, understanding responsibilities, understand the purpose of life, to understand health.
 


Hopefully this article useful. Thank you for reading.
























         Centers for Disease Control and Prevention in 1995 estimated that about 5 million people aged less than 17 years died from diseases related to smoking cigarettes. Quantity of Indonesian teenagers these days have increased . Central Bureau of Statistics noted in 2004 among active smokers than there are children in the age range of 13-15 years with the amount of 26.8 % and in the range of 5-9 years as much as 2.8 % . National Commission for Protection of Child obtain data on the causes of adolescent allure to smoking . Obtained the data , 99.7 % of adolescents affected to smoking after seeing tobacco advertising on television; 87.7 % after seeing smoking in outdoor advertising ; 76.2 % after seeing cigarette ads in newspapers and magazines , and 81 % after following activities sponsored by the tobacco industry .
           Santrock ( 2003) found several reasons why teenagers taking drugs is because they want to know , to improve self-esteem , solidarity , adaptation to the environment , as well as for the compensation .

  •  Social and interpersonal influence : including lack of parental warmth , supervision , control and encouragement . Negative assessment of the elderly , the tension in the home , parental divorce and separation .
  •  The influence of culture and manners : looking at the use of alcohol and drugs as a symbol of resistance to conventional standards , the short -term goal-oriented and hedonistic satisfaction , etc.
  • Interpersonal Influence : including a temperamental personality , aggressive , people who have an external locus of control , low self-esteem , poor coping skills , etc.
  • Heterosexual Love and Relationships
  • Sexual problems
  • Adolescent relations with Both Parents
  • Moral issues , values ​​, and religion
           As with the opinion of Smith & Anderson , thinks most teenagers do risky behaviors considered part of the normal developmental process . Risky behavior is most often done by teenagers is the use of cigarettes, alcohol , and drugs .

This article is taken from the website of the Indonesian Pediatric Association (idai.or.id)
Thank you.

          Kini, remaja di Indonesia punya berbagai masalah yang cukup pe­lik, mulai dari masalah kawin mu­da hingga penyalahgunaan nar­koba. Semakin muda usia saat perkawinan pertama semakin besar risiko yang dihadapi ibu dan anak. Salah satu indikator kesejahteraan rakyat adalah angka kematian ibu. Angka kematian ibu di Indonesia masih tinggi. Laporan UNICEF tahun 2001 menyebutkan angka kematian ibu rata-rata dari tahun 1980-1999 adalah 450 per 100.000 kelahiran hidup. Sedangkan hasil SKRT 1995 menunjukkan penurunan angka kematian ibu sampai 373 per 100.000 kelahiran hidup. Beberapa penyebab utama kematian tersebut adalah tidak tersedianya perawatan ibu dengan baik, jarak kelahiran yang terlalu berdekatan, dan pernikahan dini.
       Sebuah survei tahun 1995 mendapatkan 21,5% perempuan Indonesia yang perkawinan pertamanya dilakukan pada usia 17 tahun. Di daerah pedesaan dan perkotaan perempuan melakukan perkawinan di bawah umur tercatat masing-masing 24,4% dan 16,1%. Persentase terbesar kawin muda terdapat di propinsi Jawa Timur 40,3%, Jawa Barat 39,6%, dan Kalimantan Selatan 37,5%.
       Untuk kasus Human Immuno­de­ficiency Virus/Acquired Im­mune Deficiency Syndrome (HIV/AIDS) me­nun­jukkan, hampir sete­nga­h­nya, yakni 45,9 persen kasus ber­asal dari usia 20-29 tahun. Data  itu menunjukkan, usia remaja juga rentan terkena HIV/AIDS. Yang masih menjadi masalah saat ini adalah bahwa usia kawin pertama di Indonesia pada pe­rempuan baru mencapai 19 ta­hun. Padahal, usia kawin perta­ma pe­rempuan diharapkan 21 tahun. Karena itu, perencanaan ke­luarga sejahtera seharusnya dimulai se­jak remaja.
       Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2010, ter­ca­tat ada 35 dari 1.000 remaja yang sudah pernah melahirkan. Bahkan, usia rata-rata perka­wi­nan wanita adalah 19 tahun.Guna menanggulangi persoa­lan ­remaja saat ini, Badan Ke­pen­dudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) terus meng­ga­lakan program “Generasi B­e­ren­cana (GenRe) Goes to School”.
“Program GenRe ini diha­rap­kan bisa mencetak sosok mo­ti­vator di kalangan remaja untuk meng­kampanyekan ke setiap se­kolah,” kata Deputi Keluarga Se­jahtera dan Pemberdayaan Ke­luar­ga BKKBN Dr Sudibyo Ali­moe­so di Jakarta.
         Sekitar 64 juta jiwa remaja Indonesia rentan akan kasus kawin muda atau sekitar 27,6 persen dari jumlah penduduk yang ada. Ini diutarakan Kepala BKKBN, Dr Sugiri Syarief.



        Salah satu bentuk perilaku risiko tinggi yang terjadi dan menjadi masalah masa remaja adalah perilaku yang berkaitan dengan seks pra nikah. Angka statistik tentang deviasi (penyimpangan) perilaku seks pra nikah anak remaja dari tahun ke tahun semakin meningkat. Era tahun 1970, penelitian mengenai perilaku seks pra nikah menunjukkan angka 7-9%. Dekade tahun 1980, angka tersebut meningkat menjadi 12-15%. Berikutnya tahun 1990 meningkat lagi menjadi 20%.
        Di era sekarang ini, Pusat Studi Kriminologi Universitas Islam Indonesia di Yogyakarta menemukan 26,35% dari 846 peristiwa pernikahan telah melakukan hubungan seksual pra nikah dimana 50% nya menyebabkan kehamilan. Di Kabupaten Kulon Progo berdasarkan pantauan Dinas Kesehatan tahun 2006, sekitar 44% calon pengantin baru yang melakukan tes kehamilan telah diketahui positif hamil.
        Data nasional survei keluarga tahun 1982 sebanyak 65% perempuan muda menggunakan kontrasepsi yang tidak efektif atau tanpa kontrasepsi sewaktu melakukan hubungan seks pertama, kejadian tersebut menurun menjadi 41% pada tahun 1988.6 Penelitian oleh Pusat Ekologi Kesehatan, Badan Litbang Kesehatan, Depkes RI tahun 1990 terhadap siswa-siswa SMA di Jakarta dan Yogyakarta menyebutkan bahwa faktor utama yang mempengaruhi remaja untuk melakukan hubungan seks pranikah adalah membaca buku porno dan menonton blue film (54,3% di Jakarta dan 49,2% di Yogyakarta).  Adapun motivasi utama melakukan senggama adalah suka sama suka (76% di Jakarta dan 75,6% di Yogyakarta), pengaruh teman, kebutuhan biologis 14-18% dan merasa kurang taat pada nilai agama sebanyak 20-26%.
       Sungguh disayangkan dengan berbagai alasan para remaja untuk melakukan hubungan seksual pra nikah yang tentunya menjadi dampak yang sangat buruk bagi kehidupan remaja. Semoga setiap tahunnya permasalahan yang terjadi pada remaja bisa terus berkurang khususnya dalam hal pergaulan yang bisa merusak diri remaja sendiri. 

Artikel ini diambil dari Ikatan Dokter Anaka Indonesia (idai.or.id)
Terima kasih.

Tahapan perubahan pada remaja

      Saat remaja kita selalu menemui banyak perubahan pada diri kita, baik itu masalah fisik, mental hingga emosional kita. Kadang banyak remaja yang tidak siap untuk menerima perubahan pada dirinya dari yang sebelumnya menjadi anak-anak yang masih bisa bermain-main dan tidak perlu memikirkan diri baik itu penampilan hingga hubungan dengan lawan jenis. adapun berikut tingkatan remaja serta karakteristik dalam setiap tahapan remaja.

Tipe Usia (tahun) Karakteristik Dampak
Remaja dini 10-13 Masa pubertas, hubungan dengan teman, kognisi konkret Memperhatikan tahapan fisik dan seksual, rasa tanggung jawab, interaksi dengan alat verbal dan visual
Remaja pertengahan 14-16 Muncul dorongan seksual, perubahan perilaku, kebebasan, kognisi abstrak Menarik lawan jenis kebebasan bertambah, sikap ambivalen, ego belum stabil
Remaja Akhir 17-21 Kematangan fisik, saling berbagi rasa, idealis, emansipasi mantap Hubungan individual, lebih terbuka, memahami tanggung jawab, memahami tanggung jawab, paham tujuan hidup, paham kesehatan.

       Semoga artikel ini bermanfaat. Terima kasih telah membaca.

         Centers for Disease Control and Prevention pada tahun 1995 memperkirakan sekitar 5 juta orang berusia kurang dari 17 tahun meninggal akibat penyakit yang berhubungan dengan rokok. Jumlah perokok dari kalangan remaja Indonesia akhir-akhir ini mengalami peningkatan. BPS mencatat pada tahun 2004 perokok aktif dari kalangan anak-anak ada pada kisaran usia 13-15 tahun dengan jumlah 26,8 % dan pada kisaran 5-9 tahun sebanyak 2,8 %. Komnas Perlindungan Anak mendapatkan data tentang faktor penyebab daya tarik remaja terhadap rokok. Diperoleh data, 99,7 % remaja terpengaruh untuk merokok setelah melihat iklan rokok di televisi; 87,7 % setelah melihat iklan rokok di luar ruang; 76,2 % setelah melihat iklan rokok di koran dan majalah, dan 81 % setelah mengikuti kegiatan yang disponsori industri rokok.
           Santrock (2003) menemukan beberapa alasan mengapa remaja mengkonsumsi narkoba yaitu karena ingin tahu, untuk meningkatkan rasa percaya diri, solidaritas, adaptasi dengan lingkungan, maupun untuk kompensasi.
  • Pengaruh sosial dan interpersonal: termasuk kurangnya kehangatan dari orang tua, supervisi, kontrol dan dorongan. Penilaian negatif dari orang tua, ketegangan di rumah, perceraian dan perpisahan orang tua.
  • Pengaruh budaya dan tata krama: memandang penggunaan alkohol dan obat-obatan sebagai simbol penolakan atas standar konvensional, berorientasi pada tujuan jangka pendek dan kepuasan hedonis, dll.
  • Pengaruh interpersonal: termasuk kepribadian yang temperamental, yagresif, orang yang memiliki lokus kontrol eksternal, rendahnya harga diri, kemampuan koping yang buruk, dll.
  • Cinta dan Hubungan Heteroseksual
  • Permasalahan Seksual
  • Hubungan Remaja dengan Kedua Orang Tua
  • Permasalahan moral, nilai, dan agama
      Lain halnya dengan pendapat Smith & Anderson, menurutnya kebanyakan remaja melakukan perilaku berisiko dianggap sebagai bagian dari proses perkembangan yang normal. Perilaku berisiko yang paling sering dilakukan oleh remaja adalah penggunaan rokok, alkohol, dan narkoba.

Artikel ini diambil dari website Ikatan Dokter Anak Indonesia (idai.or.id)
Terima kasih.
          Adolescence is a period marked by rapid development of aspects of biological, psychological, and social well. These conditions resulted in a variety of disharmony which requires offsets so that teens can reach a mature stage of psychosocial development and adequate according to age level. This condition varies greatly among adolescents and showed that individual differences, so that every teenager should be able to adjust themselves to the demands of their environment.
There are three factors that play a role in this, namely;

     1. Factors that individual brain maturity and genetic constitution (among others temperament).
     2.  Factors parenting parents in childhood and pre-adolescence.
     3. Environmental factors namely family life, local culture, and foreign cultures.

           Every teenager actually has the potential to reach maturity personality that allows them to face the challenges of life in a natural environment, but the potential is certainly not going to develop optimally if it is not supported by physical factors and environmental factors are adequate.
Thus there will always be risk factors and protective factors associated with the formation of the personality of a teenager, namely;

1. Risk factors
Can be individualized, contextual (environmental influence), or generated through the interaction between the individual and his environment. Risk factors coupled with psychosocial vulnerability and resilience of adolescents will lead to emotional and behavioral disorders typical of adolescents.
Risk factors may include;
a. Individual factors.
     Genetic factors / constitutional; various mental disorders have a genetic background that is quite obvious, such as behavioral disorders, personality disorders, and other psychological disorders.
     Lack of social skills such as the ability, to face fear, low self-esteem, and stress. The belief that violent behavior is acceptable behavior, and accompanied by an inability to handle anger. This condition tends to lead to high-risk behavior for adolescents.
 

b . Psychosocial factors .
    
family
    
Disharmony between parents , parental substance abuse , parental mental disorder , the incompatibility of temperament between parents and adolescents , as well as parents who are not parenting tend to be empathetic and domination , all the above conditions often lead to aggressive behavior and difficult temperament in children and adolescents .
    
school
    
Bullying is one of the strong influence of peer groups , as well as the impact of academic failure . This condition is a serious risk factor for adolescents . Bullying , or often referred to as peer victimization is a form of coercion or conduct business both psychological and physical harm to a person / group of people who are weaker , by a person / group of people who are more powerful .
    
Bullying can be either ( a) physical , pinching , beating , mugging , or slapping ; ( b ) such psychological , intimidation , neglect , and discrimination , (c ) verbal , abuse, ridicule, and slander . All of these conditions are stress and traumatic experience for teens and often result occurrence of mental disorders for adolescents
    
Hazing is an activity that is usually performed by members of the group who has been ' seniors ' group is trying to intimidate the more ' junior ' to perform embarrassing acts , even less so the ' senior ' is torturing and harassing causing discomfort both physically and psychic . This act is often performed as a prerequisite for admission to a particular group . The hazing ritual has long done as a tradition from year to year as the admission process of initiation someone in a group and usually only lasts a short , but are not rare extension causing stress for teenagers who experience it .
    
Bullying and hazing is a serious enough pressure for teens and negative impact on adolescent development . The prevalence of the above two conditions is estimated around 10-26 % . The study found that students who experience bullying behavior that is not confident, hard to get along , feel afraid to come to school so that the numbers absent be high , and the difficulty in to focus lass resulting in a decrease in learning achievement ; are not uncommon they are experiencing bullying or hazing continue to be depressed and commit suicide .
    
Situation and life has been shown that there is a close relationship between the incidence of mental disorders with a wide range of life and social conditions such as poverty , unemployment , divorce , and the presence of chronic diseases in adolescents .
 


b. protective factor           Protective factors are factors that explain that not all adolescents who have risk factors will experience behavioral or emotional problems , or certain mental disorders . Rutter (1985 ) explains that protective factors are factors that modify , alter , or make a person's response to be stronger to face many challenges that come from the environment . This protective factors interact with risk factors with the end result occurs whether or not a behavioral or emotional problems , or mental disorders later in life .
Rae G N et al . suggests a range of protective factors , such as:

    -
Character / positive personal character .
   
- Supportive family environment .
   
- Social environment that serves as a support system to strengthen efforts to adolescent adjustment .
    -
Good social skills . Good intellectual level .
According to E. Erikson , by strengthening protective factors and reduce risk factors in a teenager it was reached maturity and a personality that is characterized by social independence ;

  •  Self awareness is characterized by a sense of self-confidence and awareness of strengths and    weaknesses in the context of positive interpersonal relationships .
  •  Role of anticipation and the role of experimentation , namely the urge to anticipate certain positive role in the environment , as well as the courage to experiment with the role which must be accompanied by awareness of the advantages and disadvantages that exist within him .
  • Apprenticeship , namely the willingness to learn from others to improve the ability / skill to learn and work. 
This article is taken from the website of the Indonesian Pediatric Association (idai.or.id). thank you 
         A total of 29% of the world population consists of adolescents, and 80% of them live in developing countries. Based on the census in Indonesia in 2005, the number of adolescents aged 10-19 years is approximately 41 million people (20% of the total population of Indonesia in the same year). In this globalization era, many challenges to be faced by the teenagers who live in big cities in Indonesia, not least who live in rural areas, such as the increased demands of high school, access to communication / internet that is free, and also broadcast both written and electronic media . They are required to deal with these conditions either positive or negative, whether it comes from within themselves or from the environment. Thus, adolescents should have a range of skills in their lives so that they can succeed through this phase to the optimum.
         Adolescence is a tumultuous time. At this time the mood (mood) can change very quickly. Changes in mood (swing) which drastically on these teenagers often because the burden of homework, school work, or daily activities at home. Although teenagers are easy mood change rapidly, it is not necessarily a symptom or a psychological problem. In terms of self-awareness, in adolescence, the adolescent experience dramatic changes in their self-awareness (self-awareness). They are very vulnerable to other people's opinions because they assume that everyone else always admired or criticized them as they admire or criticize themselves. This assumption was made ​​very concerned teenagers themselves and reflected image (self-image). Adolescents tend to consider themselves very unique and even believe their uniqueness will end with success and fame.
        Girls will primp for hours in front of the mirror because he believed people would glance at and interested in beauty , being young would imagine he admired the opposite sex if he looks unique and " great " . At the age of 16 years and older , adolescents eccentricity will lose its charge if he is often faced with the real world . At that time , teens will begin to realize that other people have a poorer world unto itself, and not always the same as that facing , or even thinking. Teen assumption that they always noticed by others and then be without merit . At this time , adolescents begin confronted with reality and dreams and challenges to adjust their imagination with reality . The teens also often consider themselves all- capable , so that they often look " do not think of as a result " of their actions . Impulsive actions often do , partly because they are not aware and not take into account the result of the usual short-term or long-term .
         Adolescences are given the opportunity to account for their deeds , will grow into adults who are more cautious , more self-confident , and able to be responsible . Self-confidence and sense of responsibility is what is needed as a basis for positive identity formation in adolescents . Later , he will grow up with a positive assessment on yourself and respect for others and the environment . Guidance older people are needed by adolescents as a reference how to deal with the problem as a " new person " ; various advice and a variety of ways will be sought to try. Teenagers would imagine what it would be done by the " idol " of her to resolve the issue that way . The selection of this idol will also be very important for teenagers . Of the several dimensions of the changes that occur in adolescents as described above it is possible - possible behavior that could occur in the future . Among them is the behavior that invites risk and negative impact on adolescents . Behavior that invites risk in adolescence ie such as the use of alcohol , tobacco and other substances ; social activities change - changing partners and behaviors against dangers such as motor racing , hiking etc. . The reason there is a risk behavior that invites a wide - range and phobias associated with the dynamics behind ( conterphobic dynamic ) , fear of things that are considered undervalued , it is necessary to affirm masculine identity and group dynamics such as peer pressure .
          Adolescence is a critical period in the development cycle of a person . In this period many changes in a person as a preparation for adulthood . Teenagers can not say as a little boy , but he also can not be said as an adult . This happens because in this period was explosive changes in both biological changes , psychological , and social change . In an ' all-round responsibility ' is often triggered conflict between adolescents with himself ( internal conflict ) , and the conflict surrounding environment ( external conflict ) . If the conflict is not resolved properly it will have negative impacts on adolescent development in the future , especially the maturation of his character and not infrequently lead to mental disorders .
            To prevent the negative impact of the introduction should be done early ( early detection ) changes and identify the characteristics of adolescents with multiple risk factors and protective factors so that teens can go through this period with optimal and it is capable of becoming a mature adult individuals either physical or psychological .
 
This article is taken from the website of the Indonesian Pediatric Association (idai.or.id). thank you

Upaya Penanganan Masalah Remaja

        Beberapa masalah remaja termasuk masalah kesehatan remaja perlu ditangani secara khusus dengan metode yang khusus pula. Metode mendidik remaja adalah dengan:
  1. Mengembangkan potensi remaja
  2. Memandirikan remaja
  3. Memberikan kemampuan untuk beradaptasi dan berperilaku yang diperlukan remaja dalam mengatasi tantangan dan kebutuhan hidup sehari-hari.
         Atas dasar metode ini, dalam menangani permasalahan remaja, perlu dikembangkan pola pendidikan yang berorientasi pada kesehatan psikososial remaja. Kompetensi psikososial adalah seluruh kemampuan yang berorientasi pada aspek kejiwaan seseorang terhadap diri sendiri dan interaksinya dengan orang lain serta lingkungan sekitarnya dalam konteks kesehatan. Kompetensi psikososial tersebut antara lain
  1. Empati, yaitu kemampuan untuk memposisikan perasaan orang lain pada diri sendiri.
  2. Kesadaran diri, adalah kemampuan untuk mengenal diri sendiri tentang karakter, kekuatan, kelemahan, keinginan dan tidak keinginan
  3. Pengambilan keputusan, adalah kemampuan yang dapat membantu kita untuk mengambil keputusan secara konstruktif dengan membandingkan pilihan alternatif dan efek samping yang menyertainya.
  4. Pemecahan masalah, adalah kemampuan untuk memungkinkan kita dapat menyelesaikan masalah secara konstruktif.
  5. Berpikir kreatif, yaitu kemampuan unuk menggali alternatif yang ada dan berbagai konsekuensinya dari apa yang kita lakukan.
  6. Berpikir kritis, yaitu kemampuan menganalisa informasi dan pengalaman-pengalaman secara objektif.
  7. Komunikasi efektif, yaitu kemampuan untuk mengekspresikan diri secara verbal maupun non verbal yang mengikuti budaya dan situasi
  8. Hubungan interpersonal, yaitu kemampuan yang dapat menolong kita beroteraksi dengan sesama secara positif dan harmonis.
  9. Mengatasi emosi, yaitu kemampuan keterlibatan pengenalan emosi dalam diri sendiri dan orang lain.
  10. Mengatasi stres, yaitu kemampuan pengenalan sumber-sumber yang menyebabkan stres dalam kehidupan, bagaimana efeknya dan cara mengontrol terhadap derajat stres. keterampilan hidup sehat pada remaja dilakukan dengan:
           Penerapan kompetisi psikososial dalam memberikan pendidikan keterampilan hidup sehat pada remaja dilakukan dengan:
Pembelajaran materi kesehatan
Pendidikan kesehatan berupa materi-materi kesehatan fisik dan psikis. Materi-materi tersebut antara lain :
  • Gizi
  • Kesehatan gigi dan gusi
  • Puasa dan kesehatan
  • Kesehatan mata dan telinga
  • Higiene fisik dan lingkungan
  • Bahaya narkoba bagi fisik
  • Bahaya merokok
  • Kesehatan reproduksi remaja
  • Penyakit menular lewat hewan
  • Penyakit yang biasa dialami siswa
  • Penyakit Menular Seksual (PMS)– –
Materi kesehatan Psikologis dan Sosial :
  • Psikologi remaja
  • Bahaya narkoba ditinjau dari aspek hukum dan psikososial
  • Pemahaman diri
  • Kepribadian dan konsep diri
  • Permasalahan yang biasa dialami remaja
  • Teknik konseling/terapi psikologis
  • Mengatur waktu
  • Pergaulan sehat
Penjaringan masalah
Setelah memahami berbagai pengetahuan yang diberikan, kader kesehatan remaja dituntut untuk menjadi fasilitator pada pengentasan masalah yang dialami teman sebayanya, baik kasus kesehaan fisik maupun psikologis, metode penjaringan diantaranya:
  • Pelaporan
  • Sistem angket dan kancing
Metode yang digunakan dalam pengentasan masalah, antara lain:
  • Ceramah
  • Curah pendapat
  • Diskusi kelompok
  • Debat
  • Bermain peran
  • Simulasi
  • Demontrasi
Referral (Rujukan)
Keterbatasan-keterbatasan yang ada di sekolah memungkinkan banyak kasus yang terjadi tidak dapat diselesaikan melalui pendidikan keterampilan hidup sehat disekolah, sehingga diperlukan rujukan kepada lembaga yang lebih kompeten dalam aspek psikososial.
Upaya yang dilakukan lingkungan pendidikan dalam mengatasi permasalahan ini adalah dengan ditetapkan dan dilaksanakannya beberapa kebijakan sebagai berikut:
  • Menetapkan sekolah sebagai Kawasan Tanpa Rokok (KTR) melalui yInstruksi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI No. 4/U/1997
  • Peningkatan penanggulangan penyalahgunaan narkoba di kalangan ysiswa dan mahasiswa dilakukan oleh kepala sekolah/rektor dengan cara mencegah melalui berbagai aktifitas dan kreativitas siswa
  • Pemberian materi bahaya penyalahgunaan narkoba pada setiap ypenataran/pelatihan guru mata pelajaran apapun di tingkat SMA/SMK
  • Mengintegrasikan pesan/informasi tentang kesehatan reproduksi ypada mata pelajaran yang relevan
  • Sekolah diharapkan dapat melakukan berbagai kegiatan ekstrakurikuler yuntuk menghindarkan siswa dari perilaku menyimpang.
  • Mengembangkan Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) untuk mengatasi ymasalah kebersihan di lingkungan sekolah.
  • Mengembangkan program life skills education, atau keterampilan psikososial untuk mencegah penyalahgunaan narkoba. Pengembangan perilaku hidup sehat, sikap asertif, kemampuan membuat keputusan, berpikir kritis, perlu dimiliki oleh peserta didik.
  • Menghimbau kepada seluruh perguruan tinggi untuk melaksanakan yupaya-upaya pencegahan penyalahgunaan narkoba dan seks

Sumber: Ikatan Dokter Anak indonesia (idai.or.id)

Remaja dan Permasalahannya


         Remaja berasal dari kata latin adolesence yang berarti tumbuh atau tumbuh menjadi dewasa. Istilah adolensence mempunyai arti yang lebih luas lagi yang mencakup kematangan mental, emosional sosial dan fisik (Hurlock, 1992). Remaja sebenarnya tidak mempunyai tempat yang jelas karena tidak termasuk golongan anak tetapi tidak juga golongan dewasa atau tua. Seperti yang dikemukakan oleh Calon (dalam Monks, dkk 1994) bahwa masa remaja menunjukkan dengan jelas sifat transisi atau peralihan karena remaja belum memperoleh status dewasa dan tidak lagi memiliki status anak. Ottorank (dalam Hurlock, 1990) mengatakan bahwa masa remaja merupakan masa perubahan yang drastis dari keadaan tergantung menjadi keadaan mandiri, bahkan Daradjat (dalam Hurlock, 1990) mengatakan masa remaja adalah masa dimana munculnya berbagai kebutuhan dan emosi serta tumbuhnya kekuatan dan kemampuan fisik yang lebih jelas dan daya fikir yang matang. Erikson (dalam Hurlock, 1990) menyatakan bahwa masa remaja adalah masa kritis identitas atau masalah identitas-ego remaja. Identitas diri yang dicari remaja berupa usaha menjelaskan siapa dirinya dan apa perannya dalam masyarakat, serta usaha mencari perasaan kesinambungan dan kesamaan baru para remaja harus memperjuangkan kembali dan seseorang akan siap menempatkan idola dan ideal seseorang sebagai pembimbing dalam mencapai identitas akhir. Dari pengertian-pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa remaja memiliki karakteristik sebagai berikut:
  1. Secara intelektual remaja mulai dapat berpikir logis, mempunyai kemampuan nalar secara ilmiah dan mampu menguji hipotesis.
  2. Mulai menyadari proses berpikir efisien dan belajar berintrospeksi.
  3. Mengalami puncak emosionalitas.
  4. Remaja sudah mampu berperilaku yang tidak hanya mengejar kepuasan fisik saja, tetapi meningkat pada tataran psikologism(rasa diterima, dihargai, dan penilaian positif dari orang lain).
  5. Sudah mampu memahami orang lain.
  6. Mempunyai sikap rawan (sikap comfomity) yaitu kecenderungan untuk menyerah dan mengikuti bagaimana teman sebayanya berbuat.
  7. Masa berkembangnya identitas diri.
  8. Remaja sudah mampu menyoroti nilai-nilai yang berkembang di masyarakat.
        Karakter remaja yang labil dan lingkungannya menyebabkan timbulnya penyimpangan perilaku yang juga berpengaruh terhadap kesehatan fisik dan psikologis remaja. Penyimpangan perilaku remaja juga terjadi karena interaksi faktor-faktor:
  • Predisposisi (kepribadian, kecemasan dan depresi): Kepribadian yang tidak mantap. Ciri kepribadian : gampang kecewa, jadi agresif dan destruktif, rasa rendah diri, senang mencari sensasi, cepat bosan, merasa tertekan, murung dan merasa tidak mampu menjalankan fungsinya dalam kehidupan sehari-hari.
  • Kontribusi (keluarga): Keluarga yang disfungsi sosial memungkinkan yanggota keluarga menjadi anti-sosial. Keluarga yang disfungsi sosial ditandai dengan: kesibukan orang tua, hubungan interpersonal yang kurang baik, parental modeling (yang kurang baik).
  • Pencetus (kelompok teman sebaya dan zat itu sendiri): Bila remaja ykhawatir ditolak bergabung dengan kelompok, maka remaja akam berperilaku sesuai dengan perilaku kelompoknya termasuk penggunaan narkoba.
Sumber : Ikatan Dokter Anak Indonesia (idai.or.id)

 
Peran Pendidikan dalam Mengatasi Masalah Kesehatan Remaja 
         Berdasarkan Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sisten Pendidikan Nasional, pendidikan diartikan sebagai usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Sedangkan tujuan pendidikan adalah untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Untuk mecapai tujuan pendidikan tersebut diperlukan Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas yang antara lain diwujudkan dengan menciptakan lingkungan pendidikan yang sehat bagi para peserta didik baik yang tertampung dalam sistem pendidikan formal maupun yang mengikuti jalur pendidikan non formal.
  1. Dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang sehat, kita perlu memetakan masalah-masalah kesehatan yang terjadi pada remaja dan lingkungan sekolah, antara lain diketahui sebagai berikut:
  2. Total jumlah kasus penyalahgunaan narkoba siswa SMP dan SMA sampai dengan tahun 2008 tercatat 110.627 kasus , sementara di tahun 2007 tercatat 110.970 dan tahun 2006 sebanyak 73.253
  3. Berdasarkan usia: pada usia kurang dari 26 tahun terjadi kasus penyalahgunaan narkoba sebanyak = 104 kasus, usia antara 16 s.d. 19 tahun = 2.361, 20 sampai 24 tahun = 33.020, 25 sampai 29 tahun =33.699, dan lebih dari 29 tahun sebanyak =14.859 kasus.
  4. Di Indonesia, mayoritas kasus HIV pada generasi muda antara 20 s.d 29 tahun.
  5. Setiap tahun di dunia ini kira-kira 15 juta remaja berusia 15 – 19 tahun melahirkan, 4 juta melakukan aborsi, dan hampir 100 juta terinfeksi Penyakit Menular Seksual yang bisa disembuhkan. Perkiraan terakhir, setiap hari ada 7.000 remaja terinfeksi HIV.
  6. Masalah kesehatan sekolah seperti masalah kesehatan gigi, nutrisi yang tidak seimbang, masalah kecacingan, kebersihan lingkungan sekolah yang tidak terjaga dan lain sebagainya.
  7. Ancaman dan tantangan yang menanti fase kehidupan remaja antara lain narkoba, kenakalan remaja, free sex, gaya hidup konsumtif.
  8. Sekitar 50 persen remaja usia 15 tahun, dan masih duduk di tingkat SMP/SMA sudah merokok dan berpacaran. Padahal mereka belum mengetahui bahaya seks bebas.
  9. Peredaran makanan jajanan anak sekolah tidak higienis dan memakai bahan kimia Rhodamin B (pewarna tekstil), Methanil yellow, amaranth, boraks, formalin, siklamat, sakarin, dan benzoat.
Sumber: Ikatan Dokter Anak Indonesia (idai.or.id)


Peran Guru
  • Bersahabat dengan siswa
  • Menciptakan kondisi sekolah yang nyaman
  • Memberikan keleluasaan siswa untuk mengekspresikan diri pada kegiatan ekstrakurikuler
  • Menyediakan sarana dan prasarana bermain dan olahraga
  • Meningkatkan peran dan pemberdayaan guru BP
  • Meningkatkan disiplin sekolah dan sangsi yang tegas
  • Meningkatkan kerjasama dengan orangtua, sesama guru dan sekolah lain
  • Meningkatkan keamanan terpadu sekolah bekerjasama dengan Polsek setempa
  • Mengadakan kompetisi sehat, seni budaya dan olahraga antar sekolah
  • Menciptakan kondisi sekolah yang memungkinkan anak berkembang secara sehat adalah hal fisik, mental, spiritual dan sosial
  • Meningkatkan deteksi dini penyalahgunaan NAPZA
Peran Pemerintah dan masyarakat
  • Menghidupkan kembali kurikulum budi pekerti
  • Menyediakan sarana/prasarana yang dapat menampung agresifitas anak melalui olahraga dan bermain
  • Menegakkan hukum, sangsi dan disiplin yang tegas
  • Memberikan keteladanan
  • Menanggulangi NAPZA, dengan menerapkan peraturan dan hukumnya secara tegas
  • Lokasi sekolah dijauhkan dari pusat perbelanjaan dan pusat hiburan
Peran Media
  • Sajikan tayangan atau berita tanpa kekerasan (jam tayang sesaui usia)y
  • Sampaikan berita dengan kalimat benar dan tepat (tidak provokatif)y
  • Adanya rubrik khusus dalam media masa (cetak, elektronik) yang bebas ybiaya khusus untuk remaja                                                                                                                                                             
    Artikel ini diambil dari website Ikatan Dokter Anak Indonesia (idai.or.id). Terima kasih 

         Perilaku berisiko tinggi yang dilakukan remaja perlu dicermati dengan bijaksana karena di satu pihak dapat merupakan perilaku sesaat tapi juga dapat pula merupakan pola perilaku yan terus menerus yang dapat membahayakan diri, orang lain maupun lingkungan. Untuk itu diperlukan suatu cara pendekatan yang komprehensif dari semua pihak baik orang tua, guru maupun masyarakat sekitar agar memahami perkembangan jiwa remaja dengan harapan masalah remaja dapat tertanggulangi.
         Selain ketiga masalah psikososial yang sering terjadi pada remaja seperti yang disebutkan dan dibahas diatas terdapat pula masalah masalah lain pada remaja seperti tawuran, kenakalan remaja, kecemasan, menarik diri, kesulitan belajar, depresi dll. Semua masalah tersebut perlu mendapat perhatian dari berbagai pihak mengingat remaja merupakan calon penerus generasi bangsa. Ditangan remajalah masa depan bangsa ini digantungkan.
Terdapat beberapa cara yang dapat dilakukan dalam upaya untuk mencegah semakin meningkatnya masalah yang terjadi pada remaja, yaitu antara lain :
Peran Orangtua
  • Menanamkan pola asuh yang baik pada anak sejak prenatal dan balita
  • Membekali anak dengan dasar moral dan agama
  • Mengerti komunikasi yang baik dan efektif antara orangtua – anak
  • Menjalin kerjasama yang baik dengan guru
  • Menjadi tokoh panutan dalam perilaku maupun menjaga lingkungan yang sehat
  • Menerapkan disiplin yang konsisten pada anak Hindarkan anak dari NAPZA
Peran Sebagai Pendidik
Orang tua hendaknya menyadari banyak tentang perubahan fisik maupun psikis yang akan dialami remaja. Untuk itu orang tua wajib memberikan bimbingan dan arahan kepada anak. Nilai-nilai agama yang ditanamkan orang tua kepada anaknya sejak dini merupakan bekal dan benteng mereka untuk menghadapi perubahan-perubahan yang terjadi. Agar kelak remaja dapat membentuk rencana hidup mandiri, disiplin dan bertanggung jawab, orang tua perlu menanamkan arti penting dari pendidikan dan ilmu pengetahuan yang mereka dapatkan di sekolah, di luar sekolah serta di dalam keluarga.
Peran Sebagai Pendorong
Menghadapi masa peralihan menuju dewasa, remaja sering membutuhkan dorongan dari orang tua. Terutama saat mengalami kegagalan yang mampu menyurutkan semangat mereka. Pada saat itu, orang tua perlu menanamkan keberanian dan rasa percaya diri remaja dalam menghadapi masalah, serta tidak gampang menyerah dari kesulitan.
Peran Sebagai Panutan
Remaja memerlukan model panutan di lingkungannya. Orang tua perlu memberikan contoh dan teladan, baik dalam menjalankan nilai-nilai agama maupun norma yang berlaku di masyarakat. Peran orang tua yang baik akan mempengaruhi kepribadian remaja.
Peran Sebagai Pengawas
Menjadi kewajiban bagi orang tua untuk melihat dan mengawasi sikap dan perilaku remaja agar tidak terjerumus ke dalam pergaulan yang membawanya ke dalam kenakalan remaja dan tindakan yang merugikan diri sendiri. Namun demikian hendaknya dilakukan dengan bersahabat dan lemah lembut. Sikap penuh curiga, justru akan menciptakan jarak antara anak dan orang tua, serta kehilangan kesempatan untuk melakukan dialog terbuka dengan anak dan remaja.
Peran Sebagai Teman
Menghadapi remaja yang telah memasuki masa akil balig, orang tua perlu lebih sabar dan mau mengerti tentang perubahan pada remaja. Perlu menciptakan dialog yang hangat dan akrab, jauh dari ketegangan atau ucapan yang disertai cercaan. Hanya bila remaja merasa aman dan terlindung, orang tua dapat menjadi sumber informasi, serta teman yang dapat diajak bicara atau bertukar pendapat tentang kesulitan atau masalah mereka.
Peran Sebagai Konselor
Peran orang tua sangat penting dalam mendampingi remaja, ketika menghadapi masa-masa sulit dalam mengambil keputusan bagi dirinya. Orang tua dapat memberikan gambaran dan pertimbangan nilai yang positif dan negatif , sehingga mereka mampu belajar mengambil keputusan terbaik. Selain itu orang tua juga perlu memiliki kesabaran tinggi serta kesiapan mental yang kuat menghadapi segala tingkah laku mereka, terlebih lagi seandainya remaja sudah melakukan hal yang tidak diinginkan. Sebagai konselor, orang tua dituntut untuk tidak menghakimi, tetapi dengan jiwa besar justru harus merangkul remaja yang bermasalah tersebut.
Peran Sebagai Komunikator.
Suasana harmonis dan saling memahami antara orang tua dan remaja, dapat menciptakan komunikasi yang baik. Orang tua perlu membicarakan segala topik secara terbuka tetapi arif. Menciptakan rasa aman dan telindung untuk memberanikan anak dalam menerima uluran tangan orang tua secara terbuka dan membicarakan masalahnya. Artinya tidak menghardik anak.


Artikel ini diambil dari website Ikatan Dokter Anak Indonesia (idai.or.id). Terima kasih  
. Peran guru, pemerintah, masyarakat dan media dalam upaya pencegahan permasalahan remaja   

Archive

Bidan Baiq. Diberdayakan oleh Blogger.