, ,


DMPA (Depomedroksi Progesteron Asetat)

1.      Pengertian
Depo provera ialah 6-alfa-medroksiprogesteron yang digunakan untuk tujuan kontrasepsi perenteral, mempunyai efek progestagen yang kuat dan sangat efektif. Noresterat juga termasuk dalam golongan ini (Sarwono, 2006).

2.      Farmakologi
a.       Tersedia dalam bentuk larutan mikrokristalistaline.
b.      Setelah 1 minggu penyuntikan 150 mg, tercapai kadar puncak, lalu kadarnya tetap tinggi untuk 2-3 bulan, selanjutnya menurun kembali.
c.       Pada pemakaian jangka lama, tidak terjadi efek akumulatif dari DMPA dalam darah/serum.(Hartanto, 2004)

3.      Cara Kerja Kontrasepsi Suntik DMPA
Cara kerja kontrasepsi suntik adalah DMPA:
a.       Menekan ovulasi.
b.      Mengentalkan lendir serviks sehingga menurunkan kemampuan penetrasi sperma.
c.       Menghambat transportasi gamet oleh tuba.
d.      Menjadikan selaput lendir rahim tipis dan atrofi sehingga implantasi terganggu. (Saifuddin, 2006).

4.      Efektifitas
Kontrasepsi suntik memiliki efektifitas tinggi, menurut Hartanto (2004) kurang dari 1 % dari 100 wanita akan mengalami kehamilan dalam1 tahun pemakaian DMPA. Kontrasepsi suntik sama efektifnya dengan (Pil Oral Kombinasi) POK dan lebih efektif dari IUD. Tetapi menurut Saifuddin (2006) efektif dapat terjaga apabila penyuntikan dilakukan secara teratur sesuai jadwal yang telah ditentukan.

5.      Keuntungan dan Kerugian Kontrasepsi Suntik DMPA
Menurut Saifuddin (2006) keuntungan kontrasepsi suntik DMPA, antara lain sebagai berikut:
a.       Sangat efektif.
b.      Pencegahan kehamilan jangka panjang.
c.       Tidak berpangaruh pada hubungan suami istri.
d.      Tidak mengandung estrogen sehingga tidak berdampak serius terhadap penyakit jantung dan gangguan pembekuan darah.
e.       Tidak memiliki pengaruh terhadap ASI.
f.       Membantu mencegah kanker endometrium dan kehamilan ektopik.
g.      Menurunkan kejadian penyakit jinak payudara.
h.      Mencegah beberapa penyebab penyakit radang panggul.
i.        Dapat digunakan oleh wanita usia > 35 tahun sampai perimenopause.
j.        Mencegah anemia.
Kerugian kontrasepsi suntik DMPA diantaranya, sebagai berikut:
a.       Pola haid yang normal dapat berubah menjadi amenorhea, perdarahan ireguler, perdarahan bercak, perubahan dalam frekuensi lama dan jumlah darah yang hilang.
b.      Efek pada pola haid tergantung pada lama pemakaian. Perdarahan intermenstrual dan perdarahan bercak berkurang dengan berjalannya waktu, sedangkan kejadian amenorhea sangat besar.
c.       Klien sangat tergantung pada sarana pelayanan kesehatan.
d.      Tidak dapat dihentikan sewaktu-waktu sebelum suntikan berikutnya.
e.       Tidak menjamin perlindungan terhadap penularan penyakit menular seksual, hepatitis B virus, atau infeksi virus HIV.
f.       Terlambatnya pemulihan kesuburan setelah pemakaian dihentikan.
g.      Penggunaan jangka panjang akan menimbulkan perubahan pada lipid serum dan dapat menurunkan kepadatan tulang.(Saifuddin, 2006)

6.      Indikasi dan Kontraindikasi Suntikan DMPA
Indikasi kontrasepsi suntik DMPA adalah:
a.       Usia reproduksi.
b.      Nulipara dan yang telah memiliki anak.
c.       Menghendaki kontrasepsi jangka panjang dan yang memiliki efektifitas tinggi.
d.      Menyusui dan membutuhkan kontrasepsi yang sesuai.
e.       Setelah melahirkan dan tidak menyusui.
f.       Setelah abortus atau keguguran.
g.      Tidak dapat memakai kontrasepsi yang mengandung estrogen.
h.      Anemia defisiensi besi.
i.        Sering lupa memakai pil.
j.        Mendekati usia menopause yang tidak mau atau tidak boleh menggunakan pil kombinasi.
Kontraindikasi kontrasepsi suntik DMPA yaitu:
a.       Hamil atau dicurigai hamil.
b.      Perdarahan pervaginam yang belum jelas penyebabnya.
c.       Tidak dapat menerima terjadinya gangguan haid terutama amenorhea.
d.      Riwayat kanker payudara.
e.       Diabetes mellitus yang disertai dengan komplikasi.

7.      Waktu pemberian kontrasepsi suntik DMPA menurut Saifuddin (2006) yaitu:
a.       Setiap saat selama siklus haid, asal ibu tersebut tidak hamil.
b.      Mulai hari pertama sampai hari ke-7 siklus haid.
c.       Pada ibu yang tidak haid, suntikan pertama dapat diberikan setiap saat asalkan dapat dipastikan ibu tersebut tidak hamil dan Ibu tidak boleh melakukan hubungan seksual selama 7 hari setelah suntikan.
d.      Ibu yang menggunakan kontrasepsi hormonal lain dan ingin ganti dengan kontrasepsi suntik, suntikan pertama dapat segera diberikan asalkan dapat dipastikan ibu tersebut tidak hamil.
e.       Ibu yang sedang menggunakan AKDR dan ingin ganti dengan kontrasepsi suntik, suntikan pertama dapat diberikan pada hari pertama sampai hari ke-7 siklus haid, atau dapat diberikan setiap saat setelah hari ke-7 siklus haid asal yakin ibu tersebut tidak hamil.
f.       Ibu yang tidak haid, suntikan pertama dapat diberikan setiap saat, asal ibu tersebut tidak hamil dan selama 7 hari setelah penyuntikan ibu tidak boleh melakukan hubungan seksual.

8.       Cara Pemberian Kontrasepsi Suntik DMPA
Kontrasepsi suntikan DMPA diberikan dengan cara disuntik intramuskular di daerah pantat. Apabila suntikan diberikan terlalu dangkal, penyerapan kontrasepsi suntikan akan lambat dan tidak bekerja dan efektif. Bersihkan kulit yang akan disuntik dengan kapas alkohol yang dibasahi etil isopropil alkohol 60-90%. Biarkan kulit kering sebelum disuntik. Setelah kulit kering baru disuntik. (Saifuddin, 2006)

9.      Efek Samping Kontrasepsi Suntik DMPA
a. Gangguan siklus ha
b. Depresi
c. keputihan
d. jerawat
e. Rambut rontok
f. perubahan berat badan




Keluarga Berencana dan Kontrasepsi

1.      Pengertian
Keluarga Berencana adalah upaya untuk meningkatkan kepedulian dan peran serta masyarakat melalui pendewasaan perkawinan, pengaturan kelahiran, pembinaan ketahanan keluarga, peningkatan kesejahteraan keluarga, untuk mewujudkan keluarga kecil bahagia sejahtera (BKKBN, 2002).

Kontrasepsi adalah upaya untuk mencegah terjadinya kehamilan. Upaya itu dapat bersifat sementara, dapat pula bersifat permanen. Penggunaan kontrasepsi merupakan salah satu variabel yang mempengaruhi fertilitas (Sarwono, 2006).

2.      Macam-macam Kontrasepsi
Terdapat beberapa macam alat kontrasepsi yang dapat digunakan, antara lain:

a)       Metode kontrasepsi sederhana
1) Metode kalender
Metode ini didasarkan pada suatu perhitungan yang diperoleh dari informasi yang dikumpulkan dari sejumlah menstruasi secara berurutan. Untuk mengidentifikasi hari subur, dilakukan pencatatan siklus menstruasi dengan durasi minimal enam kali dan dianjurkan dua belas siklus. Untuk menjamin efektivitas maksimum, metode kalender sebaiknya dikombinasikan dengan indikator-indikator lainnya (Glaiser, 2006).

2) Metode Amenorea Laktasi (MAL)
Menyusui eksklusif merupakan suatu metode kontrasepsi sementara yang cukup efektif, selama klien belum mendapat haid dan waktunya kurang dari enam bulan pasca persalinan. Efektifnya dapat mencapai 98%. MAL efektif bila menyusui lebih dari delapan kali sehari dan bayi mendapat cukup asupan per laktasi (Saifuddin, 2006).

3) Metode suhu tubuh
Saat ovulasi peningkatan progesteron menyebabkan peningkatan suhu basal tubuh (SBT) sekitar 0,2°C-0,4°C. Peningkatan suhu tubuh adalah indikasi bahwa telah terjadi ovulasi. Selama 3 hari berikutnya (memperhitungkan waktu ekstra dalam masa hidup sel telur) diperlukan pantang berhubungan intim. Metode suhu mengidentifikasi akhir masa subur bukan awalnya (Glaiser, 2006).

4) Sanggama terputus (koitus interuptus)
Sengama terputus adalah metode keluarga berencana tradisional, dimana pria mengeluarkan alat kelaminnya (penis) dari vagina sebelum pria mencapai ejakulasi. Efektifitas bergantung pada kesediaan pasangan untuk melakukan sengama terputus setiap pelaksanaanya (angka kegagalan 4 – 18 kehamilan per 100 perempuan) (Saifuddin, 2006).
b)       

b)      Metode Barrier
1) Kondom
Kondom merupakan selubung atau sarung karet yang dapat dibuat dari berbagai bahan diantaranya lateks (karet), plastik (vinil), atau bahan alami (produksi hewan) yang dipasang pada penis saat berhubungan seksual. Kondom tidak hanya mencegah kehamilan tetapi juga mencegah IMS termasuk HIV/AIDS.

2) Diafragma
Diafragma adalah kap berbentuk bulat cembung, terbuat dari lateks (karet) yang di insersikan ke dalam vagina sebelum berhubungan seksual dan menutup serviks.

3) Spermisida
Spermisida adalah bahan kimia (non oksinol-9) digunakan untuk menonaktifkan atau membunuh sperma. Dikemas dalam bentuk aerosol (busa), tablet vaginal suppositoria, atau dissolvable film, dan dalam bentuk krim (Saifuddin, 2006).

c)      Metode Kontrasepsi Modern
1) Kontrasepsi pil
Kontrasepsi pil merupakan jenis kontasepsi oral yang harus diminum setiap hari yang bekerja mengentalkan lendir serviks sehingga sulit dilalui oleh sperma. Terdapat dua macam yaitu kontrasepsi kombinasi atau sering disebut pil kombinasi yang mengandung progesteron dan estrogen, kemudian kontrasepsi pil progestin yang sering disebut dengan minipil yang mengandung hormon progesteron.

2) Konrasepsi implan
Kontrasepsi implan adalah alat kontrasepsi silastik berisi hormon jenis progesteron levonogestrol yang ditanamkan dibawah kulit, yang bekerja mengurangi transportasi sperma.

3) Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR)
Alat kontrasepsi dalam rahim adalah alat kontrasepsi yang dimasukkan dalam rongga rahim wanita yang bekerja menghambat sperma untuk masuk ke tuba fallopii. (Saifuddin, 2006).

4) Kontrasepsi Mantap (KONTAP)
Kontrasepsi mantap merupakan suatu cara permanen baik pada pria dan pada wanita, dilakukan dengan tindakan operasi kecil untuk mengikat atau menjepit atau memotong saluran telur (wanita), atau menutup saluran mani laki-laki (Depkes RI, 2006).

5) Kontrasepsi Suntikan
Kontrasepsi suntikan adalah kontrasepsi yang diberikan dengan cara disuntikkan secara intramuskuler di daerah ototpantat (gluteus maximus) (Siswosudarmo, 2000). Kontrasepsi suntikan berdaya kerja lama tetapi masih
banyak digunakan yaitu:
(a) DMPA (Depomedroksi Progesteron Asetat)
Diberikan sekali setiap 3 bulan dengan dosis 150 mg.
(b) NET-EN (Noretindro Enanatat) Noresterat
Diberikan dalam dosis 200 mg sekali setiap 8 minggu atau sekali setiap 8 minggu untuk 6 bulan pertama (3 kali suntikan pertama) kemudian setiap 12 minggu

,

Sarkoma Uteri


A.     Definisi
Sarkoma uteri atau sarkoma uterus adalah penyakit yang ganas (kanker) sel terbentuk dalam otot rahim atau jaringan lain yang mendukung rahim. Rahim adalah bagian dari sistem reproduksi wanita. Rahim adalah organ, berongga berbentuk pir di panggul, di mana janin tumbuh. Leher rahim adalah di akhir, lebih rendah sempit rahim, dan mengarah ke vagina.
Sarkoma rahim adalah jenis penyakit yang sangat jarang, kanker yang terbentuk di dalam otot rahim atau pada jaringan yang mendukung rahim. Sarkoma rahim berbeda dengan kanker endometrium, penyakit di mana sel-sel kanker mulai tumbuh di dalam lapisan rahim.

B.  Penyebab
1.      Faktor genetik (keturunan)
2.      Pola hidup yang tidak baik (makan, aktifitas)
3.      Wanita yang obesitas memiliki kecenderungan lebih

C.     Tahap- tahap Dalam Sarkoma Uteri
1.       Tahap I
Pada tahap I, kanker ditemukan di rahim saja. Stadium I dibagi menjadi: tahap IA, tahap IB, dan tahap IC, berdasarkan seberapa jauh kanker telah menyebar.
a)      Stadium IA: Kanker di endometrium saja.
b) Stadium IB: kanker telah menyebar ke separuh bagian dalam miometrium (lapisan otot rahim).
c) Stadium IC: Kanker telah menyebar ke bagian luar miometrium.
2.      Tahap II
Pada tahap II, kanker telah menyebar dari uterus ke leher rahim. Tahap II dibagi menjadi tahap tahap IIA dan IIB, berdasarkan seberapa jauh kanker telah menyebar.
a) Stadium IIA: Kanker telah menyebar ke kelenjar dimana serviks dan rahim bertemu.
b) Stadium IIB: Kanker telah menyebar ke jaringan ikat leher rahim
3.      Tahap III
Pada tahap III, kanker telah menyebar di luar rahim dan leher rahim, tetapi belum menyebar di luar pelvis. Tahap III dibagi menjadi tahap IIIA dan IIIB tahap, berdasarkan seberapa jauh kanker telah menyebar di dalam panggul.
a) Stadium IIIA: Kanker telah menyebar ke satu atau lebih hal berikut: lapisan terluar dari rahim dan peritoneum.
b) Tahap IIIB: Kanker telah menyebar ke kelenjar getah bening di panggul dan di dekat rahim.
4.      Tahap IV
Pada tahap IV, kanker telah menyebar keluar panggul. Tahap IV dibagi menjadi IVA IVB panggung dan panggung, berdasarkan seberapa jauh kanker telah menyebar.
a) Stadium IVA : kanker telah menyebar ke lapisan kandung kemih dan usus.
b) Stadium IVB: kanker telah menyebar ke bagian lain dari tubuh luar panggul, termasuk kelenjar getah bening di perut dan selangkangan.

D.      Diagnosis Sarkoma Uteri
Tes yang memeriksa rahim digunakan untuk mendeteksi (mengetahui) dan mendiagnosis sarkoma uterus. Pengujian berikut dan prosedur dapat digunakan:
1. Fisik ujian dan sejarah
Sebuah ujian tubuh untuk memeriksa tanda-tanda kesehatan umum, termasuk memeriksa tanda-tanda penyakit, seperti benjolan atau apapun yang tampak tidak biasa. Sejarah kebiasaan kesehatan pasien dan penyakit masa lalu dan perawatan juga akan diambil.
2. Panggul uji
Uji dari vagina, leher rahim, rahim, tabung tuba, ovarium, dan rektum. Pemasangan dokter atau perawat satu atau dua dilumasi, jari bersarung dari satu tangan ke dalam vagina dan tangan lainnya diletakkan di atas perut bagian bawah untuk merasakan ukuran, bentuk, dan posisi uterus dan ovarium. Spekulum juga dimasukkan ke dalam vagina dan tampak dokter di vagina dan serviks untuk tanda-tanda penyakit. Sebuah tes smear atau Pap smear serviks biasanya dilakukan. Dokter juga menyisipkan jari, dilumasi bersarung ke dalam rektum untuk merasakan benjolan atau daerah abnormal.
3. Pap smear
Suatu prosedur untuk mengumpulkan sel-sel dari permukaan serviks dan vagina. Sepotong kapas, kuas, atau tongkat kayu kecil digunakan untuk lembut mengikis sel-sel dari leher rahim dan vagina. Sel-sel dilihat di bawah mikroskop untuk mengetahui apakah mereka normal. Prosedur ini juga disebut Pap smear. Karena sarkoma uterus dimulai di dalam rahim, kanker ini mungkin tidak muncul pada tes Pap smear.
4. Dilatasi dan kuret
Operasi untuk mengangkat contoh jaringan atau lapisan dalam rahim. Leher rahim adalah melebar dan kuret (alat berbentuk sendok) dimasukkan ke dalam rahim untuk menghapus jaringan. Contoh jaringan dapat diambil dan diperiksa di bawah mikroskop untuk tanda-tanda penyakit.
5. Biopsi Endometrial
Penghapusan jaringan dari endometrium (lapisan dalam rahim) dengan menyisipkan fleksibel, tabung tipis melalui leher rahim dan ke dalam rahim. Tabung ini digunakan untuk lembut mengikis sejumlah kecil jaringan dari endometrium kemudian lepaskan sampel jaringan. Seorang ahli patologi pandangan jaringan di bawah mikroskop untuk mencari sel-sel kanker.

E.      Gejala dan Tanda Sarkoma Uteri
1. Perdarahan rahim yang abnormal
2. Siklus menstruasi yang abnormal
3. Perdarahan diantara 2 siklus menstruasi (pada wanita yang masih mengalami menstruasi)
4. Perdarahan vagina atau spotting pada wanita pasca menopause
5. Perdarahan yang sangat lama, berat dan sering (pada wanita yang berusia diatas 40 tahun)
6. Nyeri perut bagian bawah atau kram panggul
7. Keluar cairan putih yang encer atau jernih (pada wanita pasca menopause)
8. Nyeri atau kesulitan dalam berkemih
9. Nyeri ketika melakukan hubungan seksual.

F.     Pengobatan Sarkoma Uteri
Prosedur berikut dapat digunakan untuk mengobati sarkoma uterus atau alternatif untuk menangani sarkoma uteri :
1. Laparotomi
Sebuah prosedur pembedahan di mana insisi (memotong) dibuat di dinding perut untuk memeriksa bagian dalam perut untuk tanda-tanda penyakit. Ukuran insisi tergantung pada alasan laparotomi sedang dilakukan. Terkadang organ dikeluarkan atau sampel jaringan yang diambil dan diperiksa di bawah mikroskop untuk tanda-tanda penyakit.
2. Perut dan pembasuhan panggul
Sebuah prosedur di mana suatu larutan garam ditempatkan ke dalam rongga panggul tubuh dan perut. Setelah waktu yang singkat, cairan akan dihapus dan dilihat di bawah mikroskop untuk memeriksa sel-sel kanker.
3. Total abdominal histerektomi
Sebuah prosedur pembedahan untuk membuang rahim dan leher rahim melalui sayatan besar (dipotong) di perut.
4. Bilateral salpingo-ooforektomi
Operasi untuk menghapus kedua ovarium dan kedua saluran tuba.
5. Limfadenektomi
Sebuah prosedur pembedahan di mana kelenjar getah bening dikeluarkan dan diperiksa di bawah mikroskop untuk tanda-tanda kanker. Untuk limfadenektomi regional, beberapa kelenjar getah bening di daerah tumor dihapus. Untuk limfadenektomi radikal, sebagian besar atau seluruh kelenjar getah bening di daerah tumor dihapus. Prosedur ini juga disebut diseksi kelenjar getah bening.
       
            Semoga artikel bermanfaat, Terima kasih. Baca juga artikel lainnya:
      * Myoma Uteri
      * Kanker Endometrium
      * Jenis, Penyebab dan pemeriksaan PERITONITIS

, ,

Myoma Uteri


A.    Pengertian
Mioma uteri adalah tumor jinak yang berada pada uterus atau organ rahim. Masyarakat umumnya menyebut mioma sebagai miom atau tumor otot rahim. Umumnya mioma uteri terletak pada dinding rahim dan dapat berkembang ke arah dalam atau ke arah luar. Statistik penderita mioma tidak diketahui secara pasti karena masih jarang karena umumnya mioma uteri ditemukan secara tidak sengaja dan umumnya jarang menimbulkan keluhan atau gejala. Umumnya sekitar 30% terjadi pada wanita yang berumur di atas 35 tahun. Mioma uteri dapat muncul lebih dari satu buah dan memiliki berat yang bervariasi mulai dari beberapa gram saja hingga mencapai 5 kg.


B.     Tujuan
Untuk mendeteksi dini adanya mioma uteri dan melakukan penanganan awal.

C.     Jenis

Berdasarkan letaknya mioma uteri terbagi atas 3 yaitu :
1.      Mioma Submokosum
Angka kejadian 5%. Berada di bawah endometrium dan menonjol kedalam ronggauterus. Paling sering menyebabkan perdarahan yang banyak, sehingga memerlukan histerektomi walaupun ukurannya kecil. Adanya mioma submukosa dapat dirasakansebagai suatu “Curet Bump” (benjolan waktu kuret). Kemungkinan terjadinyadegenerasi sarkoma juga lebih besar pada jenis ini. Sering mempunyai tangkai yang panjang sehingga menonjol melalui vagina, disebut sebagai mioma submukosa bertungkai yang dapat menimbulkan “Myomgeburt” sering mengalami nekrose atauulserasi.
2.      Mioma Intramural
Mioma terdapat didinding uterus diantara serabut miometrium. Kalau besar atau multiple dapat menyebabkan pembesaran uterus dan berbenjol-benjol.

3.      Mioma Subserosum
Letaknya di bawah tunika serosa, kadang-kadang vena yang ada dipermukaan pecahdan menyebabkan perdarahan intra abdominal. Dapat tumbuh diantara kedua lapisan ligamentum latum menjadi Mioma Intra Ligamenter. Dapat tumbuh menempel pada jaringan lain, misalnya ke ligametrium atau omentum dan kemudian membebaskan diri dari uterus, sehingga disebut Wedering/Parasitik Fibroid. Mioma subserosa yang bertangkan dapat menimbulkan torsi

D.    Penyebab
            Penyebab secara pasti mioma uteri masih belum diketahui. Umumnya penyebab dari mioma uteri adalah adanya reseptor estrogen yang lebih banyak dan tinggi pada sebagian jaringan otot rahim. Otot rahim yang memiliki reseptor estrogen berlebih akan pertumbuhan yang tidak normal dan lebih sensitif terhadap hormon estrogen sehingga muncullah tumor yang disebut sebagai tumor uteri. Pada saat terjadi kehamilan dan masa reproduksi, tumor uteri akan lebih lebih cepat tumbuh dibandingan otot rahim yang normal dan akan mengecil pada saat terjadi menopause.

E.     Pemeriksaan dan deteksi dini
Diagnosa mioma uteri memerlukan pemeriksaan USG, CT – Scan atau MRI. Umumnya dengan USG saja sudah cukup untuk mendiagnosa mioma uteri. Jika anda mengalami keluhan atau gejala mioma uteri maka segerakan periksa ke dokter anda.

F.      Gejala
Gejala dan ciri – ciri mioma uteri tergantung besar dan kecilnya tumor serta arah pertumbuhannya. Gejala mioma uteri juga sangat dipengaruhi oleh siklus haid karena mioma uteri sangat dipengaruhi oleh hormon estrogen. Umumnya mioma uteri tidak menimbulkan gejala jika besarnya tumor masih kecil. Gejala akan muncul jika telah terjadi desakan tumor mioma uteri ke organ sekitarnya. Umumnya gejala mioma uteri adalah :
a.    Hipermenore ( darah haid yang berlebihan).
b.    Dismenore (nyeri haid).
c.    Nyeri pada bagian bawah abdomen (perut) akibat penekanan dan terputarnya tangkal mioma uteri.
d.   Perdarahan vagina di luar masa haid dan tidak beraturan.
e.    Anemia.
f.     Gangguan BAB dan BAK jika mioma uteri telah menekan kandung kemih, ureter (saluran kencing), rektum (usus besar) dan organ rongga panggul lainnya.
g.    Kesulitan memiliki anak karena mioma uteri menyumbat saluran tuba dan kesulitan terjadi implantasi karena adanya mioma uteri pada dinding rahim.
h.    Adanya gangguan letak bayi dan plasenta, terhalangnya jalan lahir, kelemahan kontraksi rahim, perdarahan disertai nyeri dan resiko keguguran pada masa kehamilan.
i.      Perdarahan yang banyak dan gangguan pelepasan plasenta pasca melahirkan.

G.    Patofisiologis
Mioma memiliki reseptor estrogen yang lebih banyak dibanding miometrium normal. Teori cell nest atau teori genitoblat membuktikan dengan pemberian estrogen ternyata menimbulkan tumor fibromatosa yang berasal dari sel imatur. Mioma uteri terdiri dari otot polos dan jaringan yang tersusun seperti konde diliputi pseudokapsul. Mioma uteri lebih sering ditemukan pada nulipara, faktor keturunan juga berperan. Perubahan sekunder pada mioma uteri sebagian besar bersifaf degeneratif karena berkurangnya aliran darah kemioma uteri. Menurut letaknya, mioma terdiri dari mioma submukosum, intramular dan subserosum.

F. Penatalaksanaan
1. Terapi progestin
Diberikan untuk mengurangi kadar estrogen dan untuk mengurangi perdarahan.Gonadotropin-releasing hormon (GnRH) agonists mendatangkan menopause tiruan dengan menghentikan rangsangan gonadotropin terhadap ovarium. Ini menurunkan produksi estrogen dan rangsangan pertumbuhan tumor. Mioma akan mengecil apabila rangsangan estrogen dikurangi. Agonis GnRH selalu dipakai sebelum operasi untuk menegcilkan mioma. Obat ini dapat digunakan pada kasus terpilih untuk mengendalikan mioma yang menyebabkan kemandulan. Bilamanaagonis GnRHdihentikan, mioma mulai tumbuh kembali.

2. Miomektomi

Pengangkatan mioma saja dengan tetap memelihara rahim. Biasanya dilakukan dengan rencana untuk memelihara kesuburan. Resiko rekurensi dari mioma sebesar 40% dan resiko infertilitas sehabis miomektomi adalah sebesar 40%. Miomektomi juga dilakukan pada kasus mioma yang mengganggu proses persalinan. Miomektomi sering dilakukan melalui laparotomi tetapi dapat dilaksanakan juga melalui laparoskopi pada pasien terpilih. Mioma submukosum dapat dianggkat dengan histeroskopi. Miomektomi melalui sembarang jalan dapat menyembuhkan gejala dan memelihara kesuburan, tetapi pasien harus dikonsultasikan bahwa gejala dapat berulang dan infertilitas dapat terjadi
.
3.      Histerektomi

Adalah tindakan yang bisa dilakukan bila kesuburan tidak lagi dipertahankan. Histerektomi diindikasikan bila gejala-gejalanya cukup berat untuk membenarkan resiko operasi. Histerektomi selalu dikerjakan untuk mendeteksi masa adneksa pada kehadiran uterus yang besar dan karena pertumbuhan selanjutnya mungkin mengakibatkan tekanan pada struktur-struktur saluran kencing. Terapi pembedahan dilakukan dengan indikasi :
a.    Perdarahan pervaginam abnormal yang memberat.
b.    Ukuran tumor yang besar.
c.    Ada kecurigaan perubahan ke arah keganasan terutama jika pertambahan ukurantumor setelah menopause.
d.    Retensio urine.Tumor yang menghalangi proses persalinan.

Bidan Baiq. Diberdayakan oleh Blogger.