Masa remaja adalah masa yang ditandai oleh adanya perkembangan yang pesat dari aspek biologik, psikologik, dan juga sosialnya. Kondisi ini mengakibatkan terjadinya berbagai disharmonisasi yang membutuhkan penyeimbangan sehingga remaja dapat mencapai taraf perkembangan psikososial yang matang dan adekuat sesuai dengan tingkat usianya. Kondisi ini sangat bervariasi antar remaja dan menunjukkan perbedaan yang bersifat individual, sehingga setiap remaja diharapkan mampu menyesuaikan diri mereka dengan tuntutan lingkungannya.
Ada tiga faktor yang berperan dalam hal tersebut, yaitu;
  1. Faktor individu yaitu kematangan otak dan konstitusi genetik (antara lain temperamen).
  2. Faktor pola asuh orangtua di masa anak dan pra-remaja.
  3. Faktor lingkungan yaitu kehidupan keluarga, budaya lokal, dan budaya asing.
          Setiap remaja sebenarnya memiliki potensi untuk dapat mencapai kematangan kepribadian yang memungkinkan mereka dapat menghadapi tantangan hidup secara wajar di dalam lingkungannya, namun potensi ini tentunya tidak akan berkembang dengan optimal jika tidak ditunjang oleh faktor fisik dan faktor lingkungan yang memadai.
Dengan demikian akan selalu ada faktor risiko dan faktor protektif yang berkaitan dengan pembentukan kepribadian seorang remaja, yaitu;
1. Faktor risiko
Dapat bersifat individual, konstektual (pengaruh lingkungan), atau yang dihasilkan melalui interaksi antara individu dengan lingkungannya. Faktor risiko yang disertai dengan kerentanan psikososial, dan resilience pada seorang remaja akan memicu terjadinya gangguan emosi dan perilaku yang khas pada seorang remaja.
Faktor risiko dapat berupa;
a. Faktor individu.
  1. Faktor genetik/konstitutional; berbagai gangguan mental mempunyai latar belakang genetik yang cukup nyata, seperti gangguan tingkah laku, gangguan kepribadian, dan gangguan psikologik lainnya.
  2. Kurangnya kemampuan keterampilan sosial seperti, menghadapi rasa takut, rendah diri, dan rasa tertekan. Adanya kepercayaan bahwa perilaku kekerasan adalah perilaku yang dapat diterima, dan disertai dengan ketidakmampuan menangani rasa marah. Kondisi ini cenderung memicu timbulnya perilaku risiko tinggi bagi remaja.
b. Faktor psikososial.
  1. Keluarga
    Ketidakharmonisan antara orangtua, orangtua dengan penyalahgunaan zat, gangguan mental pada orangtua, ketidakserasian temperamen antara orangtua dan remaja, serta pola asuh orangtua yang tidak empatetik dan cenderung dominasi, semua kondisi di atas sering memicu timbulnya perilaku agresif dan temperamen yang sulit pada anak dan remaja.
  2. Sekolah
    Bullying merupakan salah satu pengaruh yang kuat dari kelompok teman sebaya, serta berdampak terjadinya kegagalan akademik. Kondisi ini merupakan faktor risiko yang cukup serius bagi remaja. Bullying atau sering disebut sebagai peer victimization adalah bentuk perilaku pemaksaan atau usaha menyakiti secara psikologik maupun fisik terhadap seseorang/sekelompok orang yang lebih lemah, oleh seseorang/sekelompok orang yang lebih kuat.
    Bullying dapat bersifat (a) fisik seperti, mencubit, memukul, memalak, atau menampar; (b) psikologik seperti, mengintimidasi, mengabaikan, dan diskriminasi; (c) verbal seperti, memaki, mengejek, dan memfitnah. Semua kondisi ini merupakan tekanan dan pengalaman traumatis bagi remaja dan seringkali mempresipitasikan terjadinya gangguan mental bagi remaja
    Hazing adalah kegiatan yang biasanya dilakukan oleh anggota kelompok yang sudah ’senior’ yang berusaha mengintimidasi kelompok yang lebih ’junior’ untuk melakukan berbagai perbuatan yang memalukan, bahkan tidak jarang kelompok ’senior’ ini menyiksa dan melecehkan sehingga menimbulkan perasaan tidak nyaman baik secara fisik maupun psikik. Perbuatan ini seringkali dilakukan sebagai prasyarat untuk diterima dalam suatu kelompok tertentu. Ritual hazing ini sudah lama dilakukan sebagai tradisi dari tahun ke tahun sebagai proses inisiasi penerimaan seseorang dalam suatu kelompok dan biasanya hanya berlangsung singkat, namun tidak jarang terjadi perpanjangan sehingga menimbulkan tekanan bagi remaja yang mengalaminya.
    Bullying dan hazing merupakan suatu tekanan yang cukup serius bagi remaja dan berdampak negatif bagi perkembangan remaja. Prevalensi kedua kondisi di atas diperkirakan sekitar 10 – 26%. Dalam penelitian tersebut dijumpai bahwa siswa yang mengalami bullying menunjukkan perilaku yang tidak percaya diri, sulit bergaul, merasa takut datang ke sekolah sehingga angka absebsi menjadi tinggi, dan kesulitan dalam berkonsetransi di kelas sehingga mengakibatkan penurunan prestasi belajar; tidak jarang mereka yang mengalami bullying maupun hazing yang terus menerus menjadi depresi dan melakukan tindak bunuh diri.
  3. Situasi dan kehidupan Telah terbukti bahwa terdapat hubungan yang erat antara timbulnya gangguan mental dengan berbagai kondisi kehidupan dan sosial masyarakat tertentu seperti, kemiskinan, pengangguran, perceraian orangtua, dan adanya penyakit kronik pada remaja.
2. Faktor protektif
Faktor protektif merupakan faktor yang memberikan penjelasan bahwa tidak semua remaja yang mempunyai faktor risiko akan mengalami masalah perilaku atau emosi, atau mengalami gangguan jiwa tertentu. Rutter (1985) menjelaskan bahwa faktor protektif merupakan faktor yang memodifikasi, merubah, atau menjadikan respons seseorang menjadi lebih kuat menghadapi berbagai macam tantangan yang datang dari lingkungannya. Faktor protektif ini akan berinteraksi dengan faktor risiko dengan hasil akhir berupa terjadi atau tidaknya masalah perilaku atau emosi, atau gangguan mental di kemudian hari.
Rae G N dkk. mengemukakan berbagai faktor protektif, antara lain adalah:
  1. Karakter/watak personal yang positif.
  2. Lingkungan keluarga yang suportif.
  3. Lingkungan sosial yang berfungsi sebagai sistem pendukung untuk memperkuat upaya penyesuaian diri remaja.
  4. Keterampilan sosial yang baike. Tingkat intelektual yang baik.
Menurut E. Erikson, dengan memperkuat faktor protektif dan menurunkan faktor risiko pada seorang remaja maka tercapailah kematangan kepribadian dan kemandirian sosial yang diwarnai oleh;
  1. Self awareness yang ditandai oleh rasa keyakinan diri serta kesadaran akan kekurangan dan kelebihan diri dalam konteks hubungan interpersonal yang positif.
  2. Role of anticipation and role of experimentation, yaitu dorongan untuk mengantisipasi peran positif tertentu dalam lingkungannya, serta adanya keberanian untuk bereksperimen dengan perannya tersebut yang tentunya disertai dengan kesadaran akan kelebihan dan kekurangan yang ada dalam dirinya.
  3. Apprenticeship, yaitu kemauan untuk belajar dari orang lain untuk meningkatkan kemampuan/keterampilan dalam belajar dan berkarya.                                                                                                                                                                                                                       Artikel ini diambil dari website Ikatan Dokter Anak Indonesia (idai.or.id). Terima kasih                 Baca juga artikel lainnya: 
     

Perubahan Mental Emosional Remaja



          Sebanyak 29% penduduk dunia terdiri dari remaja, dan 80% diantaranya tinggal di negara berkembang. Berdasarkan sensus di Indonesia pada tahun 2005, jumlah remaja yang berusia 10 – 19 tahun adalah sekitar 41 juta orang (20% dari jumlah total penduduk Indonesia dalam tahun yang sama). Dalam era globalisasi ini banyak tantangan yang harus dihadapi oleh para remaja yang tinggal di kota besar di Indonesia, tidak terkecuali yang tinggal di daerah perdesaan seperti, tuntutan sekolah yang bertambah tinggi, akses komunikasi/internet yang bebas, dan juga siaran media baik tulis maupun elektronik. Mereka dituntut untuk menghadapi berbagai kondisi tersebut baik yang positif maupun yang negatif, baik yang datang dari dalam diri mereka sendiri maupun yang datang dari lingkungannya. Dengan demikian, remaja harus mempunyai berbagai keterampilan dalam hidup mereka sehingga mereka dapat sukses melalui fase ini dengan optimal.
              Masa remaja merupakan masa yang penuh gejolak. Pada masa ini mood (suasana hati) bisa berubah dengan sangat cepat. Perubahan mood (swing) yang drastis pada para remaja ini seringkali dikarenakan beban pekerjaan rumah, pekerjaan sekolah, atau kegiatan sehari-hari di rumah. Meski mood remaja yang mudah berubah-ubah dengan cepat, hal tersebut belum tentu merupakan gejala atau masalah psikologis. Dalam hal kesadaran diri, pada masa remaja para remaja mengalami perubahan yang dramatis dalam kesadaran diri mereka (self-awareness). Mereka sangat rentan terhadap pendapat orang lain karena mereka menganggap bahwa orang lain sangat mengagumi atau selalu mengkritik mereka seperti mereka mengagumi atau mengkritik diri mereka sendiri. Anggapan itu membuat remaja sangat memperhatikan diri mereka dan citra yang direfleksikan (self-image). Remaja cenderung untuk menganggap diri mereka sangat unik dan bahkan percaya keunikan mereka akan berakhir dengan kesuksesan dan ketenaran.
                Remaja putri akan bersolek berjam-jam di hadapan cermin karena ia percaya orang akan melirik dan tertarik pada kecantikannya, sedang remaja putra akan membayangkan dirinya dikagumi lawan jenisnya jika ia terlihat unik dan “hebat”. Pada usia 16 tahun ke atas, keeksentrikan remaja akan berkurang dengan sendirinya jika ia sering dihadapkan dengan dunia nyata. Pada saat itu, remaja akan mulai sadar bahwa orang lain tenyata memiliki dunia tersendiri dan tidak selalu sama dengan yang dihadapi atau pun dipikirkannya. Anggapan remaja bahwa mereka selalu diperhatikan oleh orang lain kemudian menjadi tidak berdasar. Pada saat inilah, remaja mulai dihadapkan dengan realita dan tantangan untuk menyesuaikan impian dan angan-angan mereka dengan kenyataan. Para remaja juga sering menganggap diri mereka serba mampu, sehingga seringkali mereka terlihat “tidak memikirkan akibat” dari perbuatan mereka. Tindakan impulsif sering dilakukan; sebagian karena mereka tidak sadar dan belum biasa memperhitungkan akibat jangka pendek atau jangka panjang.
               Remaja yang diberi kesempatan untuk mempertanggungjawabkan perbuatan mereka, akan tumbuh menjadi orang dewasa yang lebih berhati-hati, lebih percaya-diri, dan mampu bertanggung jawab. Rasa percaya diri dan rasa tanggung jawab inilah yang sangat dibutuhkan sebagai dasar pembentukan jati diri positif pada remaja. Kelak, ia akan tumbuh dengan penilaian positif pada diri sendiri dan rasa hormat pada orang lain dan lingkungan. Bimbingan orang yang lebih tua sangat dibutuhkan oleh remaja sebagai acuan bagaimana menghadapi masalah itu sebagai “seseorang yang baru”; berbagai nasihat dan berbagai cara akan dicari untuk dicobanya. Remaja akan membayangkan apa yang akan dilakukan oleh para “idola”nya untuk menyelesaikan masalah seperti itu. Pemilihan idola ini juga akan menjadi sangat penting bagi remaja. Dari beberapa dimensi perubahan yang terjadi pada remaja seperti yang telah dijelaskan diatas maka terdapat kemungkinan – kemungkinan perilaku yang bisa terjadi pada masa ini. Diantaranya adalah perilaku yang mengundang risiko dan berdampak negatif pada remaja. Perilaku yang mengundang risiko pada masa remaja misalnya seperti penggunaan alkohol, tembakau dan zat lainnya; aktivitas sosial yang berganti – ganti pasangan dan perilaku menentang bahaya seperti balapan motor, naik gunung dll. Alasan perilaku yang mengundang risiko ada bermacam – macam dan berhubungan dengan dinamika fobia balik (conterphobic dynamic), rasa takut dianggap hal yang dinilai rendah, perlu untuk menegaskan identitas maskulin dan dinamika kelompok seperti tekanan teman sebaya.
                Masa remaja merupakan masa yang kritis dalam siklus perkembangan seseorang. Di masa ini banyak terjadi perubahan dalam diri seseorang sebagai persiapan memasuki masa dewasa. Remaja tidak dapat dikatakan lagi sebagai anak kecil, namun ia juga belum dapat dikatakan sebagai orang dewasa. Hal ini terjadi oleh karena di masa ini penuh dengan gejolak perubahan baik perubahan biologik, psikologik, maupun perubahan sosial. Dalam keadaan ‘serba tanggung’ ini seringkali memicu terjadinya konflik antara remaja dengan dirinya sendiri (konflik internal), maupun konflik lingkungan sekitarnya (konflik eksternal). Apabila konflik ini tidak diselesaikan dengan baik maka akan memberikan dampak negatif terhadap perkembangan remaja tersebut di masa mendatang, terutama terhadap pematangan karakternya dan tidak jarang memicu terjadinya gangguan mental.
                   Untuk mencegah terjadinya dampak negatif tersebut, perlu dilakukan pengenalan awal (deteksi dini) perubahan yang terjadi dan karateristik remaja dengan mengidentifikasi beberapa faktor risiko dan faktor protektif sehingga remaja dapat melalui periode ini dengan optimal dan ia mampu menjadi individu dewasa yang matang baik fisik maupun psikisnya.

CAUSE PAIN HEAD (HEADACHE)


Secondary Headache
       
Among the various causes of secondary headache , the most important is the headache caused by a brain tumor and headache due to meningitis .
       
Headache due to elevation of intracranial pressure and / or hydrocephalus caused by a brain tumor . Based on its location , brain tumors can occur supratentorial or infratentorial . Supratentorial tumors showed symptoms of headache , paralysis and seizures , whereas infratentorial tumors is often accompanied by symptoms of brain nerves and cerebellar symptoms . The analysis of 200 children with brain tumors showed symptoms of headache ( 41 % ) , vomiting ( 12 % ) , the imbalance ( 11 % ) , visual disturbances ( 10 % ) , conduct disorder ( 10 % ) and seizures ( 9 % ) . Examination reveals papilledema ( 38 % ) , cranial nerve disorders ( 49 % ) , cerebellar disorders ( 48 % ) , disability ( 27 % ) and loss of consciousness ( 12 % ) .
       
Headache due to brain tumor usually is not pulsed , is progressive becoming more and more frequent and more severe . Often accompanied by vomiting . Its location is often settled in the area . Pain often occurs in the morning when you wake up , and aggravated by Valsalva maneuvers such as coughing , sneezing , or straining . Pain is also aggravated by physical activity .
        
Headache for central nervous system infections , especially meningitis . In bacterial meningitis , characterized headache symptoms of infection , symptoms of excitatory meningeal and cerebral symptoms such as seizures or paralysis .
         
Head Pain in Children and Adolescents . Big boy with tuberculous meningitis may show symptoms of severe headache before the appearance of symptoms of other cerebral and meningeal symptoms stimuli . In contrast to other intracranial pressure elevation , in tuberculous meningitis often found atrophy of the optic disc N. II because the nerves to the brain II directly affected . Symptoms similar to a brain abscess brain tumor plus symptoms of infection .
        
Posttraumatic headache . Posttraumatic headache pain can be an acute or chronic pain . Acute pain can occur after a trauma that causes mild or severe trauma berat.25 trauma can cause brain hemorrhage , subdural or epidural hemorrhage . Headache after trauma usually is part of a post- traumatic syndrome that includes dizziness , difficulty concentrating , anxiety , personality changes and insomnia .
This article is taken from the website : INDONESIA Pediatric Association ( idai.or.id ) . thank you

headache in children and teens

Tension - type headache ( TTH )
        
Previously thought to be caused by psychological factors that TTH , but in fact it is essentially neurobiological . TTH TTH divided into infrequent episodic , frequent episodic TTH and chronic TTH . Each of these circumstances can be with or without accompanying pain perikranial .In children it is often difficult to distinguish TTH to migraine . In TTH diagnosis , some exclusion criteria for migraine is a factor . TTH does not indicate that throbbing pain , not unilateral , do not become more severe when the move , and autonomic symptoms such as nausea and vomiting .
Pathophysiology
         
TTH is not yet known . Chronic type may be the result of central mechanisms whereas episodic type is due to peripheral mechanisms . Infrequent episodic type usually does not cause serious problems , but often episodic and chronic type often cause significant disruption to the child .The presence of pain in the muscle emphasis perikranial very helpful diagnosis . Pain increases with the intensity and frequency of headache . Emphasis is made ​​with the index finger and middle finger in a circular motion on the frontal muscle , temporal , masetter , pterygoid , splenius and trapezius .Frequent episodic TTH and chronic TTH may coexist with migraine without aura . Both of these situations should be distinguished because the natural course of the disease berbeda.Dalam treatment , migraine can be turned into TTH .
Cluster headache
          
Appears as unilateral pain in the orbital , supraorbital , temporal or in combination . The attack lasts 15-180 minutes and occur once two days to 8 times per day . Attacks accompanied by symptoms such as unilateral conjunctival injection , lacrimation , nasal congestion , rhinorrhea , forehead and facial sweating on , miosis , ptosis , eyelid edema and large mata.Sebagian patients showed agitation during the attack . Cluster headache is rare in children , onset is most frequent in the age over 20 years .
This article is taken from the website : INDONESIA Pediatric Association ( idai.or.id ) . thank you

         In children , migraine can be showed manifestations in several forms, migraine without aura (common migraine ) , migraine with aura ( classic migraine ) , and periodic syndrome which is a precursor of migraine in adolescents migren.8 will settle in 41.8 % of cases , experience remission in 38.2 % of cases and turn into TTH in 20 % of cases .
Migraine without aura
        
Is a type of migraine is most commonly found . His trademark is a headache with symptom -free intervals . Headache was throbbing , which is sometimes difficult to explain to a child . Migraines accompanied by autonomic symptoms such as nausea and vomiting , and aggravated by physical activity . Symptoms of nausea and vomiting have also caused significant disruption activity .
        
For a child has made ​​modifications to the diagnostic criteria , namely : between 1-72 hours long attack , the location of bilateral or bifrontal at age less than 15 years with a record of when the occipital location to look for other possible causes , and the presence of photophobia and phonophobia were seen with changes in behavior , for example go into a dark room and sepi.Adanya provisions " not caused by something else " suggests that other diagnoses must be ruled out .

Migraine with aura
           
Aura symptoms caused depolarization of neurons in one place and oligaemia accordance with the theory of cortical spreading depression . Visual aura is a disorder that is often found with bilateral visual acuity scotoma ( 77 % ) , distortion or hallucinations ( 16 % ) and impaired vision monocular or scotoma ( 7 % ) .
Abdominal migraines
           
This situation may be common, but rarely diagnosed . Can be regarded as a refusal to go to school . The key is to know him repeating patterns , and get rid of gastrointestinal and renal diseases .
Therapy on Migraines
         
The goal of management is a long-term comprehensive management to reduce the frequency , weight and length of the attack ; provide the best therapy ; prevent excessive treatment , and improving the quality of life of patients .
        
Drug therapy in migraine can be divided into therapies to treat acute attacks and prophylactic therapy to prevent attacks . Many drugs can be used in adults has not been granted permission for use in children so that their use is still off - label . In addition , the many known migraine complementary and alternative therapies , such as psychological interventions , lifestyle changes , relaxation , bio - feedback , diet and others.
        
Therapy of acute migraine attacksThe goal of acute treatment is to eliminate pain and other symptoms quickly and effectively so that patients can return to work . Drugs should be given when the patient begins to feel any symptoms . When symptoms of migraine has reached its peak , the treatment becomes very difficult . Mild attacks only require one kind of analgesics while heavy attacks require combination therapy .


This article is taken from the website: INDONESIA Pediatric Association (idai.or.id). thank you



       Headache is a very common complaint in children and adolescents . Often doctors are confused face of the complaint and then solve the problem by performing imaging studies and EEG , which is not appropriate because most of the results indicate that the norm .

Epidemiology
       Data from retrospective studies showed that headache " generic " was found in 37-51 % of children aged 7 years , and increased to 57-82 % of children aged 15 years . Among all headaches in children , migraine and tension - type headache ( TTH ) showed the highest prevalence . The prevalence of migraine was 3 % in pre-school children , 4-11 % of primary school aged children , and 8-23 % in secondary school, while the prevalence of TTH is 30-78 %.

Classification of headache
       Classification of headache have been published by the International Headache Society with the revision in the classification 2005.Dalam , headache diagnosis number in the tens of sorts .
      Headache can be divided into primary headache consisting of migraine , tension - type headache (TTH ), cluster headaches and secondary headaches are caused by other diseases . Among the many types of headache , which is important for pediatricians are migraine , tension - type headache and secondary headache due to intracranial infection , intracranial mass and head trauma .
Some types of headache are important, namely:
1. Migraine
2. Migraine without aura
3. Migraine with aura
4. Benign paroxysmal vertigo
5. periodic syndrome
6. cyclic vomiting
7. abdominal migraines
8. Tension-type headache (TTH)
  9. cluster headache
10. Secondary Headache

This article is taken from the website: INDONESIA Pediatric Association (idai.or.id). thank you
Bidan Baiq. Diberdayakan oleh Blogger.